BAB II
PEMBAHASAN
PRE EKLAMSI BERAT(PEB)
A. Definisi
Pre eklampsia adalah sekumpulan
gejala yang timbul pada wanita hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari
hipertensi, edema dan protein uria tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan
vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul
setelah kehamilan berumur 28 minggu atau lebih. (Nanda, 2012)
Preeklampsia adalah hipertensi yang
timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria (Prawirohardjo,
2008).
Pre eklamsi adalah timbulanya
hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia 20
minggu atau segera setelah persalinan (Mansjoer dkk, 2006).
B. Anatomi
Fisiologi
Perubahan Fisiologi Wanita Hamil
Segala perubahan fisik dialami
wanita selama hamil berhubungan dengan beberapa sistem yang disebabkan oleh
efek khusus dari hormon. Perubahan ini terjadi dalam rangka persiapan
perkembangan janin, menyiapkan tubuh ibu untuk bersalin, perkembangan payudara
untuk pembentukan/produksi air susu selama masa nifas. (Salmah dkk, 2006,
hal.47)
a.
Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah
pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada
dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus.Pada bulan-bulan pertama
kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng.Pada kehamilan 4
bulan uterus berbentuk bulat dan pada akhir kehamilan kembali seperti semula,
lonjong seperti telur. (Wiknjosastro, H, 2006, hal. 89)
Perkiraan umur kehamilan berdasarkan tinggi fundus
uteri :
1)
Pada kehamilan 4 minggu fundus uteri blum teraba
2)
Pada kehamilan 8 minggu, uterus membesar seperti telur
bebek fundus uteri berada di belakang simfisis.
3)
Pada kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur
angsa, fundus uteri 1-2 jari di atas simfisis pubis.
4)
Pada kehamilan 16 minggu fundus uteri kira-kira
pertengahan simfisis dengan pusat.
5)
Kehamilan 20 minggu, fundus uteri 2-3 jari di bawah
pusat.
6)
Kehamilan 24 minggu, fundus uteri kira-kira setinggi
pusat.
7)
Kehamilan 28 minggu, fundus uteri 2-3 jari di atas
pusat.
8)
Kehamilan 32 minggu, fundus uteri pertengahan
umbilicus dan prosessus xypoideus.
9)
Kehamilan 36-38 minggu, fundus uteri kira-kira 1
jari di bawah prosessus xypoideus.
10) Kehamilan 40
minggu, fundus uteri turun kembali kira-kira 3 jari di bawah prosessus
xypoideus. (Wiknjosastro, H, 2006. Hal. 90-91 dan Mandriwati, G. A. 2008. Hal.
90).
b.
Vagina
Vagina dan vulva juga mengalami perubahan akibat
hormon estrogen sehingga tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide).Tanda
ini disebut tanda Chadwick. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
c. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih
terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira
kehamilan 16 minggu.Namun akan mengecil setelah plasenta terbentuk, korpus
luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini
akan diambil alih oleh plasenta. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal .95)
d. Payudara
Payudara akan mengalami perubahan,
yaitu mebesar dan tegang akibat hormon somatomammotropin, estrogen, dan
progesteron, akan tetapi belum mengeluarkan air susu. Areola mammapun tampak
lebih hitam karena hiperpigmentasi. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
e. Sistem
Sirkulasi
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan
dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan
pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula.Volume darah ibu dalam kehamilan
bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut
hidremia. Volume darah akan bertambah kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan 32
minggu, diikuti dengan cardiac output yang meninggi kira-kira 30%.
(Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 96).
f. Sistem
Respirasi
Wanita hamil pada kelanjutan
kehamilannya tidak jarang mengeluh rasa sesak nafas.Hal ini ditemukan pada
kehamilan 32 minggu ke atas karena usus tertekan oleh uterus yang membesar ke
arah diafragma sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. (Wiknjosastro, H.
2006. Hal. 96)
g. Traktus
Digestivus
Pada bulan pertama kehamilan
terdapat perasaan enek (nausea) karena hormon estrogen yang meningkat.Tonus
otot traktus digestivus juga menurun.Pada bulan-bulan pertama kehamilan tidak
jarang dijumpai gejala muntah pada pagi hari yang dikenal sebagai moorning
sickness dan bila terlampau sering dan banyak dikeluarkan disebut hiperemesis
gravidarum. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
h. Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan
kandung kencing tertekan oleh uterus yang membesar sehingga ibu lebih sering
kencing dan ini akan hilang dengan makin tuanya kehamilan, namun akan timbul
lagi pada akhir kehamilan karena bagian terendah janin mulai turun memasuki
Pintu Atas Panggul. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
i.
Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit
pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh hormon Melanophore Stimulating Hormone
(MSH) yang dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat
deposit pigmen pada dahi, pipi, dan hidung, dikenal sebagai kloasma gravidarum.
Namun Pada kulit perut dijumpai perubahan kulit menjadi kebiru-biruan yang
disebut striae livide. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
j.
Metabolisme dalam Kehamilan
Pada wanita hamil Basal Metabolik
Rate (BMR) meningkat hingga 15-20 %.Kelenjar gondok juga tampak lebih jelas,
hal ini ditemukan pada kehamilan trimester akhir.Protein yang diperlukan
sebanyak 1 gr/kg BB perhari untuk perkembangan badan, alat kandungan, mammae,
dan untuk janin, serta disimpan pula untuk laktasi nanti.Janin membutuhkan
30-40 gr kalsium untuk pembentukan tulang terutama pada trimester ketiga.Dengan
demikian makanan ibu hamil harus mengandung kalsium, paling tidak 1,5-2,5 gr
perharinya sehingga dapat diperkirakan 0,2-0,7 gr kalsium yang tertahan untuk
keperluan janin sehingga janin tidak akan mengganggu kalsium ibu. Wanita hamil
juga memerlukan tambahan zat besi sebanyak 800 mg untuk pembentukan haemoglobin
dalam darah sebagai persiapan agar tidak terjadi perdarahan pada waktu
persalinan. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 98)
k. Kenaikan
Berat Badan
Peningkatan berat badan ibu selama
kehamilan menandakan adaptasi ibu terhadap pertumbuhan janin. Perkiraan
peningkatan berat badan adalah 4 kg dalam kehamilan 20 minggu, dan 8,5 kg dalam
20 minggu kedua (0,4 kg/minggu dalam trimester akhir) jadi totalnya 12,5 kg.
(Salmah, Hajjah.2006. Hal.60-61)
C.
Etiologi
Penyebab preeklamsi sampai sekarang
belum di ketahui secara pasti,tapi pada penderita yang meninggal karena
preeklamsia terdapat perubahan yang khas pada berbagai alat.Tapi kelainan yang
menyertai penyakit ini adalah spasmus arteriole, retensi Na dan air dan
coogulasi intravaskulaer.
Walaupun vasospasmus mungkin bukan
merupakan sebab primer penyakit ini, akan tetapi vasospasmus ini yang menimbulkan berbagai
gejala yang menyertai preeklamsi.
Sebab pre eklamasi belum diketahui :
a. Vasospasmus
menyebabkan :
·
Hypertensi
·
Pada otak (sakit kepala, kejang)
·
Pada placenta (solution placentae, kematian janin)
·
Pada ginjal (oliguri, insuffisiensi)
·
Pada hati (icterus)
b.
Ada beberapa teori yang dapat menjelaskan tentang
penyebab preeklamsia yaitu :
·
Bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan
ganda, hidramnion, dan molahidatidosa
·
Bertambahnya frekuensi seiring makin tuanya kehamilan
·
Dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan
kematian janin dalam uterus
·
Timbulnya hipertensi, edema, protein uria, kejang dan
koma.
c.
Factor Perdisposisi Preeklamsi
·
Molahidatidosa
·
Diabetes melitus
·
Kehamilan ganda
·
Hidrocepalus
·
Obesitas
·
Umur yang lebih dari 35 tahun
D.
Klasifikasi
Preeklamsi di bagi menjadi 2
golongan yaitu :
a. Preeklamsi
Ringan :
1) Tekanan
darah 140/90 mmHg atau lebih yang di ukur pada posisi berbaring terlentang,
atau kenaikan diastolic 15 mmHg atau lebih, kenaikan sistolik 30 mmHg/lebih.
Cara pengukuran sekurang-kurangnya pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak periksa
1 jam, dan sebaiknya 6 jam.
2) Edema umum
(kaki, jari tangan dan muka atau BB meningkat)
3) Proteinuri
kuwantitatif 0,3 gr atau lebih per liter, sedangkan kuwalitatif 1+ & 2+
pada urine kateter atau midstream.
b. Preeklamsi
Berat
1) TD 160/110
mmHg atau lebih
2) Proteinuria
5gr atau lebih perliter
3) Oliguria
(jumlah urine <500cc/24 jam)
4) Adanya
gangguan serebri, gangguan visus, dan rasa nyeri pada efigastrium
5) Terdapat
edema paru dan sianosis
E.
Manifestasi
Klinis
a. penambahan
berat badan yang berlebihan, terjadi kenaikan 1 kg seminggu beberapa kali.
b. Edema
terjadi peningkatan berat badan, pembengkakan kaki, jari tangan dan muka.
c. Hipertensi
(di ukur setelah pasien beristirahat selama 30 menit)
· TD >
140/90 mmHg atau
· Tekanan
sistolik meningkat > 30 mmHg
· Diastolik>15
mmHg
· Tekanan
diastolic pada trimester ke II yang >85 mmHg patut di curigai sebagai
preeklamsi
d. Proteinuria
1) Terdapat
protein sebanyak 0,3 g/l dalam urin 24 jam atau pemeriksaan kuwalitatif +1 /
+2.
2) Kadar
protein > 1 g/l dalam urine yang di keluarkan dengan kateter atau urine
porsi tengah, di ambil 2 kali dalam waktu 6 jam.
F. Patofisiologi
Pada pre eklampsia terdapat
penurunan plasma dalam sirkulasi dan terjadi peningkatan hematokrit. Perubahan
ini menyebabkan penurunan perfusi ke organ , termasuk ke utero plasental fatal
unit. Vasospasme merupakan dasar dari timbulnya proses pre eklampsia.
Konstriksi vaskuler menyebabkan resistensi aliran darah dan timbulnya hipertensi
arterial.Vasospasme dapat diakibatkan karena adanya peningkatan sensitifitas
dari sirculating pressors. Pre eklampsia yang berat dapat mengakibatkan
kerusakan organ tubuh yang lain. Gangguan perfusi plasenta dapat sebagai pemicu
timbulnya gangguan pertumbuhan plasenta sehinga dapat berakibat terjadinya
Intra Uterin Growth Retardation.
G. 
Pathway

Pathway
H. Pemeriksaan Penunjang
a.
Laboratorium : protein uri dengan kateter atau
midstream ( biasanya meningkat hingga 0,3 gr/lt atau +1 hingga +2 pada skala kualitatif
), kadar hematokrit menurun, BJ urine meningkat, serum kreatini meningkat, uric
acid biasanya > 7 mg/100 ml
b.
USG : untuk mengetahui keadaan janin
c.
NST : untuk mengetahui kesejahteraan janin
I. Komplikasi
Tergantung derajat pre-eklampsianya, yang termasuk komplikasi antara lain
atonia uteri (uterus couvelaire), sindrom HELLP (Haemolysis Elevated Liver
Enzymes, Low Platelet Cown), ablasi retina, KID (Koagulasi Intra Vaskular
Diseminata), gagal ginjal, perdarahan otal, oedem paru, gagal jantung, syok dan
kematian.
Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut kronisnya insufisiensi
uteroplasental, misalnya pertumbuhan janin terhambat dan prematuritas.
J. Penatalaksanaan
a.
Prinsip Penatalaksanaan
Pre-Eklampsia
1) Melindungi
ibu dari efek peningkatan tekanan darah
2) Mencegah
progresifitas penyakit menjadi eklampsia
3) Mengatasi
atau menurunkan risiko janin (solusio plasenta, pertumbuhan janin terhambat,
hipoksia sampai kematian janin)
4) Melahirkan
janin dengan cara yang paling aman dan cepat sesegera mungkin setelah matur,
atau imatur jika diketahui bahwa risiko janin atau ibu akan lebih berat jika
persalinan ditunda lebih lama.
b.
Penatalaksanaan
Pre-Eklampsia Ringan
1) Dapat
dikatakan tidak mempunyai risiko bagi ibu maupun janin
2) Tidak perlu
segera diberikan obat antihipertensi atau obat lainnya, tidak perlu dirawat
kecuali tekanan darah meningkat terus (batas aman 140-150/90-100 mmhg).
3) Istirahat
yang cukup (berbaring / tiduran minimal 4 jam pada siang hari dan minimal 8 jam
pada malam hari)
4) Pemberian
luminal 1-2 x 30 mg/hari bila tidak bisa tidur
5) Pemberian
asam asetilsalisilat (aspirin) 1 x 80 mg/hari.
6) Bila tekanan
darah tidak turun, dianjurkan dirawat dan diberi obat antihipertensi :
metildopa 3 x 125 mg/hari (max.1500 mg/hari), atau nifedipin 3-8 x 5-10
mg/hari, atau nifedipin retard 2-3 x 20 mg/hari, atau pindolol 1-3 x 5 mg/hari
(max.30 mg/hari).
7) Diet rendah
garam dan diuretik tidak perlu
8) Jika
maturitas janin masih lama, lanjutkan kehamilan, periksa tiap 1 minggu
9) Indikasi
rawat : jika ada perburukan, tekanan darah tidak turun setelah 2 minggu rawat
jalan, peningkatan berat badan melebihi 1 kg/minggu 2 kali berturut-turut, atau
pasien menunjukkan tanda-tanda pre-eklampsia berat. Berikan juga obat
antihipertensi.
10) Jika dalam
perawatan tidak ada perbaikan, tatalaksana sebagai pre-eklampsia berat. Jika
perbaikan, lanjutkan rawat jalan
11) Pengakhiran
kehamilan : ditunggu sampai usia 40 minggu, kecuali ditemukan pertumbuhan janin
terhambat, gawat janin, solusio plasenta, eklampsia, atau indikasi terminasi
lainnya. Minimal usia 38 minggu, janin sudah dinyatakan matur.
12) Persalinan
pada pre-eklampsia ringan dapat dilakukan spontan, atau dengan bantuan
ekstraksi untuk mempercepat kala ii.
c.
Penatalaksanaan Pre-Eklampsia
Berat
Dapat ditangani secara aktif atau konservatif.
Aktif berarti : kehamilan diakhiri / diterminasi bersama dengan pengobatan
medisinal. Konservatif berarti : kehamilan dipertahankan bersama dengan
pengobatan medisinal. Prinsip : Tetap pemantauan janin dengan klinis, USG,
kardiotokografi.
1) Penanganan aktif.
Penderita
harus segera dirawat, sebaiknya dirawat di ruang khusus di daerah kamar
bersalin.Tidak harus ruangan gelap.Penderita ditangani aktif bila ada satu atau
lebih kriteria ini.
·
Ada tanda-tanda impending eklampsia
·
Ada hellp syndrome
·
Ada kegagalan penanganan konservatif
·
Ada tanda-tanda gawat janin atau iugr
·
Usia kehamilan 35 minggu atau lebih
Pengobatan medisinal : diberikan
obat anti kejang MgSO4 dalam infus dextrose 5% sebanyak 500 cc tiap 6 jam. Cara
pemberian MgSO4 : dosis awal 2 gram intravena diberikan dalam 10 menit,
dilanjutkan dengan dosis pemeliharaan sebanyak 2 gram per jam drip infus (80
ml/jam atau 15-20 tetes/menit). Syarat pemberian MgSO4 : – frekuensi napas
lebih dari 16 kali permenit – tidak ada tanda-tanda gawat napas – diuresis
lebih dari 100 ml dalam 4 jam sebelumnya – refleks patella positif. MgSO4
dihentikan bila : – ada tanda-tanda intoksikasi – atau setelah 24 jam pasca
persalinan – atau bila baru 6 jam pasca persalinan sudah terdapat perbaikan
yang nyata. Siapkan antidotum MgSO4 yaitu Ca-glukonas 10% (1 gram dalam 10 cc
NaCl 0.9%, diberikan intravena dalam 3 menit).Obat anti hipertensi diberikan
bila tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg atau tekanan darah diastolik
lebih dari 110 mmHg.Obat yang dipakai umumnya nifedipin dengan dosis 3-4 kali
10 mg oral. Bila dalam 2 jam belum turun dapat diberi tambahan 10 mg lagi.
Terminasi kehamilan : bila penderita belum in partu, dilakukan induksi
persalinan dengan amniotomi, oksitosin drip, kateter Folley, atau prostaglandin
E2. Sectio cesarea dilakukan bila syarat induksi tidak terpenuhi atau ada
kontraindikasi partus pervaginam.Pada persalinan pervaginam kala 2, bila perlu
dibantu ekstraksi vakum atau cunam.
2) Penanganan konservatif
Pada
kehamilan kurang dari 35 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eclampsia
dengan keadaan janin baik, dilakukan penanganan konservatif.Medisinal : sama
dengan pada penanganan aktif. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai
tanda-tanda pre-eklampsia ringan, selambatnya dalam waktu 24 jam. Bila sesudah
24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan
pengobatan dan harus segera dilakukan terminasi. jangan lupa : oksigen dengan
nasal kanul, 4-6 l / menit, obstetrik : pemantauan ketat keadaan ibu dan janin.
bila ada indikasi, langsung terminasi.
Menjelaskan
tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak
selalu berarti berbaring di tempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu
dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring.Diet tinggi protein,
dan rendah lemak, karbohidat, garam dan penambahan berat badan yang tidak
berlebihan perlu dianjurkan.
Mengenal secara dini preeklampsia
dan segera merawat penderita tanpa memberikan diuretika dan obat anthipertensi,
memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan antenatal yang baik.
(Wiknjosastro H,2006).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar